Tak Berkategori

BI Ungkap Tantangan Ekonomi Sulbar: Sawit, Perikanan hingga Daya Beli Masyarakat

×

BI Ungkap Tantangan Ekonomi Sulbar: Sawit, Perikanan hingga Daya Beli Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Mamuju, ambarnews.com– Bank Indonesia (BI) menyoroti perlambatan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat yang terjadi pada triwulan II 2026. Perlambatan tersebut antara lain dipengaruhi menurunnya produksi sejumlah sektor utama, terutama pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan.

Dalam pemaparannya, BI menyebut ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan II 2026 tetap tumbuh sebesar 5,21 persen. MlNamun, terdapat sejumlah sektor yang mengalami perlambatan dibandingkan periode sebelumnya.

Selain sawit, produksi perikanan juga mengalami kontraksi. Aktivitas nelayan disebut turut dipengaruhi tingginya biaya operasional serta dinamika gelombang laut yang membuat sebagian nelayan harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan.

“Ketika produksi kelapa sawit melambat, pasokan tandan buah segar (TBS) sebagai bahan baku industri juga ikut berkurang,” demikian disampaikan dalam pemaparan tersebut.
Dampaknya kemudian terasa pada sektor industri pengolahan, termasuk produksi CPO. Perlambatan sektor pertambangan juga turut memberikan pengaruh terhadap kinerja industri pengolahan.

Sementara pada sektor perdagangan, perlambatan terjadi terutama akibat menurunnya distribusi komoditas pertanian serta dampak lanjutan dari perlambatan produksi sektor pertanian.

BI Dorong Diversifikasi Ekonomi
Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia mendorong penguatan diversifikasi sektor pertanian dan peningkatan ketersediaan bahan baku.
Penguatan investasi dan pembangunan infrastruktur juga dinilai penting untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan secara optimal.


Selain itu, daya beli masyarakat perlu terus diperkuat agar konsumsi domestik tetap terjaga. Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia mendorong penguatan diversifikasi sektor pertanian dan peningkatan ketersediaan bahan baku.
Penguatan investasi dan pembangunan infrastruktur juga dinilai penting untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan secara optimal.
Selain itu, daya beli masyarakat perlu terus diperkuat agar konsumsi domestik tetap terjaga.

Bank Indonesia juga memproyeksikan perekonomian Sulawesi Barat tetap memiliki ruang untuk tumbuh lebih kuat ke depan. Untuk 2026, pertumbuhan ekonomi Sulbar diproyeksikan berada pada kisaran 5,2 hingga 6,2 persen.
Memasuki 2027, penguatan ekonomi dinilai perlu ditopang oleh konektivitas, produktivitas, diversifikasi produk ekonomi serta pengelolaan risiko.

Inflasi Sulbar 2,29 Persen secara Tahunan

Selain pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia juga mencermati perkembangan inflasi di Sulawesi Barat.
Hingga Agustus 2026, inflasi Sulawesi Barat tercatat 0,11 persen secara bulanan, 2,29 persen secara tahunan (yoy) dan 2,28 persen secara year to date (ytd).

Sejumlah komoditas menjadi penyumbang inflasi, di antaranya ikan kakap dan ikan kembung. Kenaikan harga komoditas perikanan tersebut berkaitan dengan terbatasnya aktivitas nelayan serta kondisi gelombang laut.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga, seperti tomat, bawang dan cabai. Masuknya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi membantu meningkatkan ketersediaan komoditas sehingga menahan kenaikan harga.

Komoditas beras juga menjadi salah satu komponen yang turut diperhatikan dalam pengendalian inflasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada permintaan masyarakat, tetapi juga sangat dipengaruhi ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan produktivitas daerah.andibunga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *