Berita

Merajut Asa Bersama: Komunitas Relawan, Organisasi Pemuda, dan Kampus Siap Kolaborasi Kembalikan ATS ke Sekolah

25
×

Merajut Asa Bersama: Komunitas Relawan, Organisasi Pemuda, dan Kampus Siap Kolaborasi Kembalikan ATS ke Sekolah

Sebarkan artikel ini

Mamuju ambarnews.com– Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) jadi salah satu fokus kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Barat. Terakhir, sebanyak 550 ATS yang secara resmi telah dikembalikan ke sekolah oleh pemerintah provinsi Sulawesi Barat.

Lewat launching gerakan kembali bersekolah yang dilaksanakan tepat di hari pendidikan nasional awal Mei yang lalu, 550 anak dari berbagai wilayah, dari sejumlah tingkat pendidikan itu akhirnya kembali merasakan indahnya bangku pendidikan. Kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Sulawesi Barat, Nehru Sagena menyebut, launching gerakan kembali bersekolah itu juga jadi momentum daya ungkit bagi semua pihak untuk dapat terlibat dalam mengadvokasi, dalam menyelamatkan generasi Sulawesi Barat.

Upaya mengembalikan anak ke bangku sekolah adalah langkah awal. Ada setumpuk agenda tindaklanjut yang mesti segera dilakukan. Yang paling dekat, kata Nehru, selain mengembalikan ATS, mengadvokasi dan memonitoring ATS yang telah dikembalikan ke sekolah tersebut juga jadi poin yang tak kalah pentingnya.

“Sebab tidak ada jaminan mereka bisa tetap bertahan. Dibutuhkan pendampingan. Kami sudah merancang mekanisme pendampingannya dengan menggandeng beberapa pihak lain. Mereka rencananya bakal berkunjung ke sekolah, melakukan konseling, berdiskusi baik dengan guru maupun kepada orang tua masing-masing,” urai Nehru Sagenda di forum meeting pendahuluan bersama sejumlah komunitas relawan dan organisasi kepemudaan dalam penanganan ATS yang digelat secara daring, belum lama ini.

Secara umum, Nehru juga memaparkan desain besar tentang ikhtiar yang bersifat preventif. Selain mengembalikan ATS, pemerintah daerah pun mendorong adanya upaya pencegahan ATS lewat berbagai tools.

“Kami akan mengaktifkan posko pengaduan ATS. Misalnya di salah satu kantor yang ada di Kecamatan Tapango, Polman. Kemudian yang sedang kita kembangkan dan akan kita simulasikan, ada semacam hotline, aduan berbasis whasapp dan juga website,” urai dia.

Pemerintah provinsi Sulawesi Barat juga ,endorong agar seluruh desa di bisa berperan aktif dalam mewujudkan wajib belajar 13 tahun. Secara umum, ada semacam peringatan dini hingga ke level desa untuk mengantisipas anak yang rawan putus sekolah.

“Jadi dia harusnya bisa terdeteksi sejak awal. Jadi kerja kita mempertahankan anak-anak untuk tetap bersekolah,” terang Nehru.

Besar harapan Nehru agar kerja-kerja tersebut di atas melibatkan sejumlah pihak. Di tengah tantangan yang kian berat, keterlibatan banyak pihak dalam gerakan tersebut merupakan sesuatu yang niscaya.

“Kita ada pada satu niat yang sama, untuk bisa saling support, saling berkolaborasi. Harapannya adalah karena agenda ini berbasis gerakan, bukan proyek atau program. Karena kalau basisnya proyek, itu akan sangat tergantung pada aanggaran. Jadi karena ini sifatnya gerakan, kami berharap bisa menjadi modal sosial kita semua untuk bisa kita mendorong bersama agar ATS ini memperoleh kesempatan kedua dalam hidupnya,” papar Nehru.

Monitotring dan pendampingan adalah adalah dua upaya nyata untuk memastikan generasi di Sulawesi Barat tak putus sekolah lagi. Menurut Nehru, kesemuanya mesti dilakukan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga.

“Nanti kita lihat irisan dan passionnya-teman-teman (komunitas relawan dan organisasi kepemudaan) cocoknya dibagian mana,” demikian Nehru Sagena

Sejumlah komunitas relawan dan organisasi kepemudaan yang bergerak di isu-isu pendidikan menyambut positif ide besar yang digelindingkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Sulawesi Barat itu. Mereka dengan tegas menyatakan kesiapannya dalam membumikan gerakan tersebut.

Salah satunya datang dari Mata Garuda Sulawesi Barat. Wadah resmi untuk para awardee dan alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di wilayah Sulawesi Barat itu menyatakan kesiapannya dalam mensukseskan gerakan tersebut. Mereka mengaku siap untuk setiap ruang yang sekiranya mereka bisa terlibat.

“Harapannya, program ini bisa berjalan dengan baik,” tutur Muhammad Harianto dari Mata Garuda Sulawesi Barat.

Setali tiga uang, Fatmawati dan PAP Mamuju Tengah juga menyuarakan apresiasinya pada gerakan tersebut. Fatmawati yang juga mengelola PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di Mamuju Tengah itu mengaku bersyukur karena telah dipertemukan dengan sejumlah komunitas, relawan serta organisasi kepemudaan lainnya yang sama-sama punya visi untuk majunya dunia pendidikan di provinsi ke-33 ini.

“Sebab selama ini, kami selalu mencari teman-teman yang punya satu visi dalam gerakan ini. Kami justru mengusulkan untuk kita semua melakukan kolaboraksi, bukan lagi sekadar kolaborasi. Saya kira, momentum ini semoga menjadi langkah yang baik untuk kita sama-sama memulai gerakan yang mulia ini,” beber Fatmawati.

Kampanye gerakan kembali bersekolah mesti menggeliat di banyak ruang. Termasuk salah satunya di ruang digital. Yusril dari sipamandar.id menegaskan komitmennya dalam berkontribusi menggelorakan gerakan itu di berbagai platform media sosial.

“Kami sangat mendukung gerakan ini. Sejalan dengan fokus kami di sisi pendidikan dan lingkungan. Kami siap mendukung gerakan ini utamanya dalam ruang-ruang platform sosial media. Bentuknya bisa hal bentuk berbagai konten-konten yang sifatnya edukasi,” ungkap Yusril.

Komitmen untuk tetap berkontribusi pada gerakan itu juga datang dari kalangan perguruan tinggi. Rektor Insititut Hasan Sulur (IHS), Dr. Hj. Agusnia Hasan Sulur menilai, faktor ekonomi dan lingkungan adalah dua layer yang paling mempengaruhi masih tingginya angka ATS di Sulawesi Barat.

Baginya, penting untuk dibincang secara serius seputar apa dan bagaimana metode pendekatan yang akan dilakukan dalam memaksimalkan gerakan kembali bersekolah ini. Terlebih di kondisi kekinian yang punya karakteristik tantangan tersendiri.

“Generasi sekarang, menurut saya tantangannya lebih kompleks. Maka pendekatannya mesti dilakukan secara berbeda. Memang penting untuk kita menggerakkan hal-hal seperti ini, utamanya dalam menentukan pendekatan apa yang mesti kita lakukan sebelum kita semua membuat sesuatu yang sifatnya berkesinambungan. Yang pasti kami dari IHS selalu siap untuk berkontribusi. Tentang apa yang akan dilakukan, selanjutnya bisa kita diskusikan lebih lanjut,” begitu kata Dr. Hj. Agusnia Hasan Sulur. adv/andibunga