Mamasa, ambarnews.com–Temuan ulat belatung dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Desa Uhaidao, Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa, memicu sorotan publik setelah videonya viral dan menuai kekhawatiran para orang tua siswa.
Insiden yang mencoreng pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi anak sekolah itu akhirnya direspons langsung oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Melalui pertemuan dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, pihak sekolah, dan pemerintah desa, SPPG menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kejadian tersebut.
Koordinator Wilayah (Korwil) MBG Kabupaten Mamasa, Muhammad Syahrul Gunawan, mengakui adanya temuan belatung dalam makanan yang disajikan kepada siswa.
Namun hingga kini, kata Syahrul, pihaknya masih melakukan penelusuran untuk memastikan titik awal kontaminasi makanan tersebut.
“Kami mengakui adanya temuan itu. Saat ini kami masih menelusuri dari mana sumbernya. Ini akan menjadi bahan evaluasi agar pelayanan ke depan bisa lebih maksimal. Kejadian ini bukan unsur kesengajaan,” ujar Syahrul melalui pesan WhatsApp, Sabtu (2/5/2026).
Menurut Syahrul, insiden itu menjadi tamparan keras bagi pelaksana program MBG di daerah, terutama dalam menjaga kualitas makanan sebelum sampai ke tangan siswa.
Ia menegaskan pihak SPPG bertanggung jawab atas kelalaian yang terjadi dan berkomitmen memperketat pengawasan, mulai dari proses pengolahan hingga distribusi makanan.
“Ini adalah kelemahan kami. Saya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Mamasa, khususnya penerima manfaat di Kecamatan Aralle. Kami pastikan akan lebih berhati-hati agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.
Kasus ini menambah daftar tantangan dalam implementasi program MBG yang sejatinya dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Di sisi lain, masyarakat mendesak agar pengawasan mutu makanan diperketat, mengingat program tersebut menyangkut kesehatan dan keselamatan peserta didik.
Insiden ini kini menjadi perhatian serius, terutama soal standar higienitas dan sistem kontrol kualitas makanan dalam program pemerintah yang menyasar anak-anak sebagai penerima manfaat utama. red



