Berita

Mengubah Trauma Menjadi Perisai : Cara Sulawesi Barat Merajut Kekuatan dari Puing Gempa 2021

16
×

Mengubah Trauma Menjadi Perisai : Cara Sulawesi Barat Merajut Kekuatan dari Puing Gempa 2021

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Majene ambarnews.com— Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun kembali gedung-gedung yang runtuh, namun butuh waktu lebih lama untuk menyembuhkan kecemasan warga setiap kali bumi bergoyang. Ingatan akan gempa berkekuatan M6,3 yang mengguncang Mamuju dan Majene pada Januari 2021 silam rupanya tidak terkubur begitu saja. Di pesisir Pamboang, memori kolektif itu kini dipahat menjadi sebuah gerakan bertahan hidup.

Selasa siang (30/6/2026), di bawah atap Dapur Mandar, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, suasana terasa berbeda. Tidak ada pidato kaku di balik podium formal. Yang ada adalah peluncuran sebuah gerakan bertajuk Desa Tangguh Bencana (Destana) Berbasis Kolaborasi. Sebuah program yang digagas oleh BPBD Provinsi Sulawesi Barat, namun sejatinya didedikasikan sepenuhnya untuk memperpanjang napas kehidupan warga saat alam sedang tidak bersahabat.

Hadir membuka acara tersebut, Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulbar Junda Maulana mewakili Gubernur Sulbar Suhardi Duka. Langkah ini menandai babak baru bagi Bumi Malaqbi dalam memandang sebuah bencana: bukan lagi sebagai musibah yang hanya bisa ditunggu, melainkan sebagai realitas geografis yang harus dihadapi dengan kepala tegak.

Mengapa “Kolaborasi” Bukan Sekadar Slogan?

Sulawesi Barat secara geologis berada di zona merah. Mulai dari ancaman tanah longsor yang mengintai perbukitan, banjir yang kerap menyapu dataran rendah, hingga gempa bumi tektonik yang fluktuatif. Junda Maulana mengingatkan bahwa pasrah bukanlah pilihan.

“Bencana adalah sesuatu yang tidak bisa kita elakkan. Itu hukum alam. Tapi paling tidak, ketika gempa atau banjir itu datang lagi, kita tidak lagi gagap. Kita sudah siap menyambut dan meminimalisir dampaknya,” ujar Junda dengan nada optimis.

Ada tiga filosofi dasar yang disuntikkan dalam program Destana kali ini, sebuah formula yang diharapkan menjadi edukasi bagi daerah lain di Indonesia:
Patahan Ego Sektoral (Kolaborasi) : Bencana tidak mengenal batas wilayah administrasi. Oleh karena itu, penanganannya wajib melibatkan masyarakat akar rumput, pemerintah desa, hingga koordinasi taktis di level kabupaten dan provinsi.

Refleks Penyelamatan (Kesiapsiagaan) : Menit-menit pertama saat bencana terjadi adalah penentu antara hidup dan mati. Destana melatih warga agar memiliki refleks yang benar saat bumi mulai berguncang.

Senjata Purba yang Ampuh (Gotong Royong) : Di era modern, teknologi mitigasi memang penting, namun kekuatan terbesar bangsa ini saat situasi darurat adalah kepedulian antar-tetangga.

“Ini harus gotong royong, tidak boleh pemerintah saja berjalan sendiri, tidak boleh pula masyarakat dibiarkan berjuang sendiri. Semangat gotong royong ini harus kita hidupkan kembali di setiap desa, karena inilah benteng utama kita untuk mencegah jatuhnya korban jiwa yang besar,” tegas Junda.

Menjaga Napas Kehidupan di Garis Pantai

Keunikan dari Destana gaya baru ini adalah pendekatannya yang tidak lagi memandang mitigasi secara sempit. Bencana di wilayah pesisir seperti Majene erat kaitannya dengan laut. Hal inilah yang mendasari hadirnya integrasi lintas sektor, termasuk dari dunia kelautan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulbar, Safaruddin S.DM, yang turut hadir di lokasi, memberikan sudut pandang edukatif mengenai pentingnya menjaga masyarakat yang hidup dari laut. Menurutnya, nelayan dan warga pesisir adalah garda terdepan yang paling pertama berhadapan dengan anomali cuaca maupun ancaman tsunami.

“Masyarakat nelayan kita adalah kelompok yang paling rentan ketika terjadi dinamika alam di laut. Melalui kolaborasi Destana ini, kami di DKP berkomitmen untuk menyinergikan program sabuk hijau (greenbelt) hutan mangrove dan edukasi keselamatan pelayaran bagi nelayan. Ketangguhan desa tidak akan lengkap tanpa ketangguhan masyarakat pesisirnya,” pungkas Safaruddin.adv/andibunga