Berita

Dari Sandeq ke Generasi Z: Bapperida Sulbar Dorong Budaya Maritim Berbasis Riset

24
×

Dari Sandeq ke Generasi Z: Bapperida Sulbar Dorong Budaya Maritim Berbasis Riset

Sebarkan artikel ini

Mamuju ambarnews.com– Masa depan sektor maritim Sulawesi Barat (Sulbar) tidak semata ditentukan oleh luas wilayah lautnya, tetapi oleh sejauh mana generasi muda memahami, menjaga, dan mewarisi pengetahuan serta kearifan lokal maritim sebagai identitas daerah.

Hal tersebut mengemuka dalam dialog interaktif “Suara Nusantara” yang disiarkan RRI Mamuju, Rabu (28/1/2026). Dalam kesempatan itu, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulbar mengajak Generasi Z (Gen Z) untuk tidak hanya mewarisi laut secara fisik, tetapi juga mewarisi nilai-nilai pengetahuan, budaya, dan filosofi maritim yang telah hidup turun-temurun di Sulawesi Barat.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Sulbar, Angga Tirta Wijaya, menegaskan bahwa budaya maritim tidak boleh dipandang sekadar sebagai warisan masa lalu atau peninggalan sejarah semata.

“Bagi generasi muda, harapan kami bukan hanya mewarisi lautnya karena kita hidup di wilayah pesisir, tetapi juga mewarisi pengetahuannya. Budaya maritim adalah aset strategis yang harus dipahami lintas generasi agar tidak tergerus oleh perubahan zaman,” ujar Angga dalam dialog bertema Tata Kelola Warisan Budaya: Kebijakan Berbasis Riset Menentukan Arah Pembangunan Sulbar.

Salah satu isu strategis yang disoroti adalah transformasi Festival Sandeq di era kepemimpinan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka. Setelah sukses bertransformasi menjadi Sandeq Silumba pada 2025 dengan konsep yang lebih modern dan profesional, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat kini menargetkan agar ikon budaya maritim tersebut dapat menembus panggung internasional.

Namun demikian, Angga menekankan bahwa penguatan citra global tersebut harus dibarengi dengan penguatan aspek edukasi dan transfer pengetahuan. Nilai-nilai filosofis perahu Sandeq—mulai dari ritual adat, etos pelaut, hingga teknik navigasi tradisional—diharapkan dapat masuk ke dalam ranah pendidikan dan pengetahuan yang diwariskan secara sistematis, sebagaimana daerah lain seperti Bali dalam mengelola identitas budayanya.

Lebih lanjut, Angga menegaskan pentingnya pergeseran paradigma pembangunan, di mana masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek semata, melainkan sebagai subjek utama pembangunan.

“Musrenbang yang dilaksanakan setiap tahun menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi pengembangan budaya maritim. Setelah aspirasi itu terserap, program pembangunan dijalankan bersama, dan masyarakat kembali berperan dalam pengawasan pelaksanaannya. Inilah pembangunan partisipatif yang kami dorong,” jelasnya.

Di kesempatan terpisah, Kepala Bapperida Provinsi Sulbar, Amujib, menekankan bahwa nilai-nilai filosofis Sandeq memiliki peran penting sebagai penggerak pembangunan karakter sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan Panca Daya Ketiga yang diusung Gubernur Suhardi Duka bersama Wakil Gubernur Salim S. Mengga, yakni membangun SDM Sulbar yang unggul dan berkarakter.

“Melalui Panca Daya, Bapak Gubernur ingin mewujudkan manifestasi filosofi Sandeq dalam diri setiap insan Sulbar, termasuk ASN. Nilai Sandeq mencerminkan integritas, keberanian, ketangguhan, dan daya adaptasi. Kita membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermental juara seperti pelaut Sandeq yang legendaris,” tegas Amujib.

Ia menambahkan bahwa etos kerja keras dan integritas pelayaran Sandeq harus menjiwai setiap program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, karena kemajuan Sulawesi Barat tidak dapat hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kekuatan karakter manusianya. adv/andibunga