BANDUNG,Ambarnews.com — Menjelang perayaan Hari Jadi Kota Bandung, dinamika politik di lingkungan Pemerintah Kota Bandung mendadak memanas. Hal ini menyusul mencuatnya kabar “curhat” Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, yang mengaku tidak lagi dilibatkan secara optimal dalam roda pemerintahan dan hanya turun tangan menangani masalah-masalah di tingkat warga.
Menanggapi polemik panas antara pimpinan di balai kota tersebut, Ketua Umum DPP LSM PMPR Indonesia, Rohimat yang akrab disapa Kang Joker, melontarkan kritik tajam sekaligus peringatan keras kepada para pemangku kebijakan.
Menurut Kang Joker, sangat ironis dan tidak elok ketika di saat masyarakat Kota Bandung bersiap menyambut hari jadi kotanya, para pemimpinnya justru memperlihatkan disharmoni dan ego sektoral ke publik.
“Kota Bandung ini punya sejarah besar, punya potensi dan sumber daya manusia yang mumpuni. Sangat disayangkan di momen sakral jelang hari ulang tahun kota, publik malah disuguhkan intrik politik internal dan pecahnya kongsi di tingkat eksekutif,” ujar Rohimat Joker saat dimintai tanggapannya di Bandung.
Ia menilai, jabatan Wakil Wali Kota bukanlah ban serep politik yang hanya dilirik saat butuh, atau disingkirkan ketika roda kekuasaan sudah berjalan. Pemimpin, kata dia, harusnya bisa merangkul kolaborasi, bukan menciptakan kubu-kubuan yang berujung pada pengabaian tugas pokok pelayanan publik.
Baginya, langkah Wakil Wali Kota Bandung yang tetap memilih turun langsung ke bawah menemui warga adalah gestur yang patut diapresiasi, namun di sisi lain menunjukkan adanya pembatasan ruang birokrasi yang tidak sehat.
“Kalau urusan pemerintahan sampai disekat-sekat dan wakil kepala daerah dipinggirkan, yang dirugikan itu rakyat Bandung. Jangan sampai penanganan masalah warga hanya dijadikan pelarian karena sudah tidak dilibatkan dalam kebijakan strategis,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, LSM PMPR Indonesia mendesak agar Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung segera duduk bersama, menanggalkan ego pribadi maupun kelompok, serta mengembalikan fokus kerja untuk kepentingan masyarakat luas.
Terlebih, momentum ulang tahun Kota Bandung harus dijadikan refleksi bersama untuk merajut kembali kolaborasi, bukan malah memperlebar jurang konflik politik yang berkepanjangan.
“Bandung butuh kesejukan dan kepemimpinan yang solid. Hentikan drama politik internal, kasihan warga yang mendambakan kota ini damai, maju, dan dilayani dengan baik,” pungkasnya.(AH)



