Lutra

Hari Ketiga Aksi di Jembatan Baliase, Luwu Utara Lumpuh Total: Jalan Ditutup, Pohon Ditebang

61
×

Hari Ketiga Aksi di Jembatan Baliase, Luwu Utara Lumpuh Total: Jalan Ditutup, Pohon Ditebang

Sebarkan artikel ini

LUWU UTARA–AMBARNEWS.COM || Aksi demonstrasi yang berlangsung di Jembatan Baliase, Kecamatan Masamba, Kabupaten Luwu Utara, memasuki hari ketiga pada Jumat, 23 Januari 2025. Aksi ini bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Luwu Utara serta Hari Perlawanan Rakyat Luwu, sehingga memiliki makna simbolik yang kuat bagi massa aksi.

Sejak pagi hari, ratusan massa kembali memadati Jembatan Baliase yang merupakan jalur vital penghubung antarwilayah di Luwu Utara. Akibatnya, akses jalan ditutup total dan menyebabkan arus lalu lintas lumpuh sepenuhnya. Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas, sehingga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, distribusi logistik, serta mobilitas masyarakat.

Pantauan di lokasi menunjukkan, selain melakukan penutupan jalan, massa aksi juga menebang sejumlah pohon di sekitar akses jembatan untuk dijadikan penghalang. Tindakan tersebut semakin memperparah kondisi kemacetan dan membuat jalur tersebut sama sekali tidak dapat dilalui.

Seorang warga Masamba yang hendak melintas mengaku terpaksa membatalkan perjalanannya akibat penutupan jalan tersebut.

“Sudah tiga hari tidak bisa lewat. Mau ke tempat kerja atau ke pasar semuanya terhambat. Ini jalan utama, jadi dampaknya besar sekali,” ujarnya.

Aksi demonstrasi ini disebut sebagai bentuk kekecewaan dan perlawanan masyarakat terhadap sejumlah persoalan yang dinilai belum mendapat penyelesaian serius dari pihak terkait. Momentum Hari Jadi Luwu Utara dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu dipilih sebagai simbol bahwa perjuangan dan aspirasi rakyat masih terus berlanjut.

Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya kesepakatan antara massa aksi dan pihak terkait. Aparat keamanan tampak berjaga di sekitar lokasi guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, namun belum dilakukan tindakan pembubaran secara paksa.

Sejumlah pemerhati kebijakan publik menilai situasi ini perlu segera ditangani secara bijak dan dialogis. Jika dibiarkan berlarut-larut, dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan dikhawatirkan akan semakin luas dan merugikan masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam aksi.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera turun tangan secara serius, membuka ruang dialog, serta menghadirkan solusi konkret agar aktivitas publik di Luwu Utara dapat kembali normal tanpa mengabaikan aspirasi yang disampaikan oleh massa aksi.

Ysf